Cerita Touring Sepeda… Menjelajah Maumere & Ende

Cerita Touring Sepeda… Menjelajah Maumere & Ende

Sejak dilaksanakannya ajang balap sepeda Tour de Flores pada tanggal 19-23 Mei 2016, Pulau Flores semakin dikenal, di Indonesia dan juga di mancanegara; sebagai tempat yang asyik untuk bersepeda. Katanya, Pulau Flores itu memiliki pemandangan alam yang indah, infrastrukturnya relatif baik, penduduk dan lalu lintas ramah kepada pesepeda dan, terutama, medannya menantang. Karenanya, saya bersama enam orang teman lainnya yang lagi hobi bersepeda berencana untuk bersepeda ke sana. Walaupun sebagian dari kami masih “newbie”, baru belajar bersepeda, penjelajahan ini sepertinya akan sangat menarik.

Tidak terlalu serius, penjelajahan ini sebenarnya 60 persen adalah perjalanan wisata. Kami sangat ingin melihat tempat-tempat indah di Maumere dan Ende. Namun demikian, kami tetap melakukan persiapan bersepeda yang cukup matang. Dengan bertanya ke sana-sini, akhirnya kami berenam berangkat ke Maumere pada akhir April 2019. Kami tiba di Bandar Udara Frans Seda, Maumere, siang hari. Setelah sampai di hotel, bersama seorang teman yang memang tinggal di Maumere, sisa waktu di hari itu kami habiskan untuk membuat perencanaan untuk mulai bersepeda keesokan harinya. Oom Ben, teman kami ini, akan menyediakan supporting car untuk membawa berbagai barang pribadi dan peralatan kami.

Pantai Koka, Tujuan Pertama

Pukul 08.00 Wita keesokan harinya, setelah melakukan sedikit pemanasan, kami berangkat dari hotel menuju ke Taman Nasional Kelimutu. Total jarak dari kota Maumere ke Taman Danau Kelimutu sekitar 107 km. Sekitar 40 km pertama, sampai Pantai Koka, jalanan berkelok-kelok dan menanjak.

Pantai Koka terletak di Desa Wolowiro, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pantai ini terletak sekitar 2 km dari jalan utama Trans Flores. Sayangnya, jalan menuju pantai ini buruk, belum diaspal. Walaupun, sebagian jalan ada yang sudah mulus, beraspal. Namun kelelahan kami terbayar ketika mencapai pantai. Air laut yang berwarna biru kehijauan, berpadu dengan pasir yang putih, menyajikan pemandangan yang sangat indah. Di hari libur atau akhir pekan, banyak warga lokal, juga wisatawan asing; datang berekreasi di pantai ini. Di sini kami beristirahat sambil menikmati makan siang. Menu nasi dengan ikan bakar, tumis sayur dan sambal; ludes dalam sekejap.

Kelimutu yang Sejuk

Sekitar pukul 14.00 Wita kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Danau Kelimutu. Kembali bersepeda di jalan Trans Flores, matahari bersinar terik. Jalanan yang menanjak dan berkelok-kelok terasa menguras energi. Saya, bersama tiga teman yang lain, mulai jauh tertinggal dari dua teman lainnya yang memang sudah lebih berpengalaman bersepeda. Melalui walkie-talkie yang kami bawa, saya minta mereka untuk memperlambat laju sepedanya agar kami tidak semakin jauh tertinggal.

Hari sudah menjelang gelap ketika kami sampai di pertigaan jalan raya Kelimutu. Berbeda dengan udara tadi siang yang amat panas, udara dingin mulai terasa di kulit. Kami masih harus menempuh sekitar 12 km jalan yang sangat menanjak. Sementara kedua teman kami sudah mulai menanjak, kami berempat memutuskan untuk beristirahat sejenak. Bersepeda di udara sangat dingin dan mulai gelap, sungguh “sesuatu” banget! Mulai muncul tanya di hati, “Sanggup nggak ya mencapai puncak?” Akhirnya… separuh jalan kami menyerah. Medan yang terus menanjak terlalu berat untuk kami, para “newbie” ini. Kamipun diangkut oleh mobil Oom Ben sampai ke penginapan.

Kami bermalam di kompleks Kantor Taman Nasional Kelimutu, karena keesokan paginya kami akan naik untuk melihat keindahan Danau “Tiga Warna” Kelimutu. Danau Kelimutu terletak di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Berada di ketinggian 1.631 meter di atas permukaan laut (mdpl), tempat ini dianggap suci/sakral oleh masyarakat. Masyarakat percaya bahwa setelah seseorang meninggal dunia, jiwanya (maE) meninggalkan kampungnya dan tinggal di Kelimutu untuk selama-lamanya, masuk ke salah satu danau kawah yang ada; tergantung usia dan perbuatannya di dunia.

Menuju Kota Ende

Setelah puas menikmati pemandangan danau tiga warna dan taman nasional yang dipenuhi ribuan jenis flora, kamipun melanjutkan perjalanan ke kota Ende.

Trek dari Taman Nasional Kelimutu sampai Ende, sejauh kurang-lebih 50 km, terasa relatif lebih ringan. Mengapa? Secara fisiografi, Pulau Flores merupakan wilayah pegunungan vulkanik. Jadi, mayoritas panorama didominasi pegunungan dan perbukitan hijau yang dipenuhi oleh aneka jenis tanaman hijau dan bunga-bungaan khas hutan tropis; namun di beberapa lokasi kami juga bertemu dengan pantai yang indah. Sungguh pemandangan yang menimbulkan decak kagum.

Lebih Aman dan Terus Terhubung

Untung banget kami bawa perangkat Motorola T82Extreme. Di Maumere dan sekitarnya, di mana jaringan telepon seluler kurang baik; T82 Extreme memungkinkan kami untuk terus berkomunikasi dengan tim. Berulang-ulang teman-teman yang di depan menyemangati kami lewat walkie-talkie jika di depan kami ada turunan. Begitupun, jika ada jalanan yang rusak; “Hati-hati Bro… di depan ada jalanan agak rusak, banyak lubang.” Apalagi, irit… komunikasi ini tidak menggunakan pulsa atau jaringan internet namun selalu bisa diandalkan di segala situasi sepanjang petualangan kami.

Fitur lain yang sangat membantu adalah senter LED (LED torch). Di trek yang gelap menuju Dana Kelimutu, senter LED cukup membantu untuk melihat kondisi jalan yang kurang baik. Aman… kami bisa terhindar dari tergelincir karena jalan yang berkerikil.

Dalam cuaca ekstrim seperti di Maumere-Ende ini, fitur weatherproof dan kemampuan menjangkau sampai 10 km, serta cara pengaturan dan penggunaannya yang mudah; T82Extreme memudahkan kami berkomunikasi dengan sesama teman, juga dengan Oom Ben sebagai pendamping kami di lapangan. Motorola T82Extreme… a perfect partner for our adventure!